Perjuangan Mencapai Kebahagiaan Lebaran

12 Aug 2015

  GiveAway Lebaran Inspiratif                Aku seorang mahasiswa perantauan. Menikmati hari-hari tanpa orang tua di Jakarta. Keluargaku berada di kabupaten Paser, Kalimantan timur. Namanya mahasiswa perantauan dengan uang pas-pasan selama dua tahun periode 2013 dan 2014 aku merayakan lebaran di Jakarta. Di saat teman-teman yang lain mempersiapkan diri untuk pulang kampung. Mulai dari beli tiket membeli oleh-oleh, sampai dengan packing baju. Aku hanya termenung melihat dan memikirkan mahalnya biaya pulang kampung. Maklum saja, mudik lebaran perlu uang setidaknya Rp 2000.000 untuk pulang pergi Jakarta-Balikpapan. Selama dua tahun terakhir bersama dengan beberapa teman senasib aku rayakan lebaran di ibukota. Tidak seperti lebaran di kampung halaman, di Jakarta nampak sepi. Jalan-jalan yang biasanya penuh sesak kendaraan. Nampak lengang di hari lebaran. Sampai timbul stigma bahwa untuk mengatasi macet Jakarta tak perlu usaha ekstra, jakarta hanya perlu lebaran untuk mengatasi kemacetan. Di Jakarta aku hanya silaturahmi ke ibu kost sebagai satu-satunya orang yang aku tuakan. Selebihnya aku habiskan waktuku untuk bergalau ria di kamar. Minta maaf kepada kerabat yang ada di kampung halaman praktis hanya kulakukan via telepon.          

    “Assalamualikum,Ibu, kakak, adek, pakdhe, saya minta maaf ya,. minal aidzin wal faizin. Tut.tut..tut. “pulsa yang anda miliki tidak cukup untuk melakukan panggilan ini”, gubrak deh -_-.

                Ketupat dan lontong sayur khas makanan lebaran yang biasa tersedia di rumah. Kini tidak ada di ranah perantauan. Alih-alih ketupat lebaran, kue lebaran yang wajib di setiap rumah pun tidak tersedia di meja kost. Untung saja ibu kost berbaik hati memberi satu mangkok ketupat penghibur.                Setelah dua tahun menjalani lebaran di ibukota tanpa keluarga. Akhirnya di tahun 2015 ini, kesempatan untuk pulang kampung dan sekaligus berlebaran dengan keluarga tiba. Uang yang diberikan ibu ditambah dengan tabunganku sudah cukup untuk biaya perjalanan ke kampung halaman. Perjalanan dari jakarta menuju kabupaten Paser kutempuh dalam waktu 8 jam. Semua moda transportasi aku gunakan untuk sampai ke kampung halaman. Mulai dari bus, pesawat, sampai dengan perahu. Untuk perjalan darat dari bandara Balikpapan menuju kampung halaman tidak melewati jalan mulus seperti di Jakarta. Perjalanan aku tempuh melewati jalan yang tidak rata dan sedikit berlubang. Jika angkutan menabrak lubang hentakan sangat terasa. Sontak hentakan membuat tulang pinggang agak getar-getir. Meskipun durasi perjalanan lumayan lama dan melalui track yang tak mudah di lewati. Namun tetap kunikmati perjalananku. Namanya juga mau ketemu dengan keluarga sudah barang tentu perjalanan seperti apapun akan aku tempuh.

siap pulang ke kampung halaman

                  Sesampainya dirumah dan melewati puasa ramadhan selama dua hari bersama keluarga. Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu datang. Merayakan idhul fitri di kampung halaman. “Allahhuakbar, Allahhuakbar walilah ilham”.Gema takbir bersuara di semua penjuru.        

               Salat ied aku dirikan di masjid agung Nurul Falah salah satu masjid yang menjadi ikon di kabupaten Paser. Bisa dibilang masjid tempatku mendirikan salat idhul fithri ini adalah masjid termegah dan terbesar di kabupaten Paser. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap mandi pakai baju baru ditambah dengan sedikit wewangian. Adapun yang menjadi imam sekaligus penceramah adalah bapak ustadz kuswadi. Beliau mengungkapkan bahwa momen ramadahan sudah kita lewatkan. Perlu sebuah evaluasi bagi diri kita tentang amalan yang kita kerjakan. Langkah selanjutnya yang harus diambil adalah meramadhankan bulan-bulan setelah bulan ramadhan.

Shalat Ied masjid Agung Nurul Falah

Suasana Masjid Agung Dari Depan

            Usai melakukan shalat ied kurasakan kontras perbedaan berlebaran di Jakarta dibanding dikampung halaman. Jika di Jakarta sendirian tanpa keluarga kini di kampung halaman aku berlebaran bersama keluarga. Hari pertama lebaran aku habiskan untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Tak lupa kewajibanku sebagai anak untuk meminta maaf kepada ibu dan kedua kakakku. Dalam keharuan ibu meneteskan air mata sambil menciumi pipiku seraya berkata,” belajar yang bener nak, ibu selalu berdoa untuk kesuksesanmu”. Tak tahan melihat ibu menangis aku pun ikut meneteskan air mata. Namun air mata itu aku sembunyikan dari ibu dan kakakku. Aku malu jika air mataku terlihat oleh ibuku. Sebagai anak laki-laki satu-satunya. Aku harus tabah dan tegar.

Sungkem Kepada Ibu Tercinta

                Setelah bermaaf-maafan dengan anggota keluarga satu rumah. Tak lupa juga kukirim pesan ke teman-teman yang tidak seberuntung aku. Mereka adalah teman-teman yang masih bertahan di Jakarta dan tidak bisa berlebaran dengan keluarga. Memberikan sedikit motivasi dan juga minta maaf kepada mereka semua. Setelah puas bermaaf-mafan, waktunya untuk menikmati jajanan ala lebaran. Jajanan lengkap tersedia di rumah. Karena kita tinggal di mayoritas rakyat dayak Paser. Di meja pun ada beberapa makanan khas dayak Paser. Makanan seperti nasi semen, buras dan leci udang sudah tersedia di meja. Langsung saja aku santap seperti harimau kelaparan. Maklum saja, dua tahun hanya ada nasi uduk sebagai makanan lebaran. Usai menyantap makanan mak nyuss di rumah kulanjutkan silaturahmi ke tempat keluarga. Selain mencari makanan lebaran, aku juga menanti kehadiran angpao lebaran dari keluarga ibu dan kakakku. Meskipun sudah berumur 19 tahun aku masih sering diberi uang lebaran oleh keluarga ibuku. Nominalnya bermacam-macam. Ada Rp 20.000 sampai dengan yang tertinggi Rp 100.000. Biasanya seseorang yang memberi angpao sampai 100.000 adalah Pamanku. Beliau sudah menganggapku seperti anak sendiri setelah bapak meninggal. Lumayanlah buat beli tiket balik ke Jakarta. Itung-itung meringankan beban ibuku.

Angpao Lebaran Yang Selalu Ditunggu

              Sambil menikmati makanan khas lebaran yang sudah tersedia. Kita selingi dengan obrolan-obrolan ringan. Senyum merekah dari keluarga nampak jelas terlihat. Paman dan saudaraku yang lain berkutat dengan obralan seputar pekerjaan yang sedang di jalankan. Sesekali aku ditanya perkembangan kuliah dan nilai yang aku dapatkan “Setelah kuliah kamu harus langsung cari pekerjaan atau berwirausaha, jangan sampai kamu nikah setelah lulus kuliah,”!! begitu kata pamanku sedikit menasehati. ‘’iya paman,.! Kujawab dengan santai nasehat itu. Pamanku yang satu ini memang intens sekali melihat perkembanganku.

              Tak lupa juga kukunjungi beberapa rekan pribadi yang rumahnya lumayan di pedalaman. Tak jarang hewan liar seperti musang, ular melintas menyebrangi jalan. Hal seperti ini sudah biasa aku temui. Maklum saja, Kalimantan masih terjaga hutan alamnya. Hewan liar pun masih banyak berkeliaran. Setelah melewati jalan yang agak terjal dan berdebu. Akhirnya aku bertemu dengan teman-teman SMK yang nampaknya sudah menunggu kehadiranku. Bersama-sama kita menuju ke pusat kota untuk menghabiskan waktu lebaran hari pertama. Memang yang paling di tunggu adalah berkumpul dengan teman SMK. Kalau dihitung praktis sudah sekitar dua tahun tidak bertemu. Ada yang sudah bekerja, nerusin kuliah bahkan tak jarang ada yang sudah punya buah hati. Namun perbedaan itu tidak lantas menjadi sebuah batu penghalang bagi kami untuk bercengkrama dan sekedar sharing seputar kehidupun yang sudah dijalani. Reoni kecil-kecilan itu kulakukan di alun-alun kota. Orang setempat menyebut alun-alun kota dengan sebutan Siring. Berbeda dengan alun-alun kota pada umumnya. Siring berada di tepi sungai bernama sungai kandilo yang memanjang di sepanjang siring atau alun-alun kota. Di tepi sungai sudah disediakan mainan anak-anak dan tempat duduk bagi pengunjungnya. Sesekali perahu nelayan melewati sungai ini. Di atas sungai berdiri kokoh jembatan seratai yang menghubungkan kota tanah grogot dengan desa sungai tuak. Bagi yang mau berwisata kuliner jajanan juga sudah tersedia di tepi jalan. Mulai dari pentol, jagung bakar, pisang ijo dan berbagai jajanan yang bisa sedikit mengganjal perut. Selain makanan kita juga bisa melihat-lihat barang yang sedang digandungri yakni batu akik. Di depan siring juga sudah dibangun komplek taman putri petung. Ada juga taman mawar yang kerlap kerlip lampunya terlihat ketika malam. Sungguh indah seperti kunang-kunang buatan manusia. Untuk mengabadikan pertemuan dengan teman-teman di kala lebaran tak lupa kita narsis di depan kamera. 

Suasana Alun-alun Kota TEmpat Menghabiskan Momen Kebersamaan Lebaran

abadikan momen kebesamaan lebaran bersama teman SMk

               Hari kedua lebaran aku berekreasi di salah satu objek wisata di Kabupaten Paser. Jika di Jakarta kebanyakan tempat rekreasi adalah wisata modern. Lain halnya dengan wisata di kabupaten Paser. Kebanyakan wisata di sini adalah wisata alam. Mulai dari pemandian air panas, cagar alam, penangkaran rusa dan banyak lagi objek wisata alam lain. Kali ini aku mencoba jalan-jalan di wisata kebun trubus jaya yang letaknya tak jauh dari rumahku. Disini pengunjung boleh memetik buah sesuka hati. Buah yang tersedia di kebun antara lain rambutan, jambu dan salak. Tetapi sayangnya ketika aku berkunjung ke kebun musim rambutan belum tiba. It’s oke masih ada jambu dan salak yang bisa aku petik langsung.

Hari Ke-2 Objek Wisata Trubus jaya

            Owh ya hampir lupa, dari tadi udah cerita panjang lebar, perkenankanlah saya untuk mengucapkan minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir bathin. Tahun ini alhamdulilah lebaran di kampung halaman sangat berkesan dan kulewati dengan senyuman. Bagaimana dengan kamu?? Mudah mudahan lebaranmu berkesan juga ya., Amin. Jika tidak, mudah-mudahan tahun depan anda bisa berkumpul dan merasakan lebaran yang lebih baik dengan keluarga.

Lewati Lebaran Tahun Ini Dengan Senyuman

Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran yang disponsori oleh Saqina.comMukena Katun Jepang Nanida, Benoa KreatiSanderm, Dhofaro, dan Minikinizz 


TAGS


-

Author

Follow Me